A. Proses Kejadian Manusia dan
Nilai-nilai Pendidikan yang Terkandung di Dalamnya
Menurut
H. M. Quraish Shihab, ada tiga kata (istilah) yang digunakan Al-Qur’an untuk
menunjuk kepada manusia.
1. Menggunakan kata (istilah)
yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin,
semacam insan, ins, nas,dan unas.
2. Menggunakan kata basyar.
Untuk
mengungkap proses kejadian manusia dalam Al-Qur’an, maka akan dihimpun beberapa
ayat yang menerangkan tentang proses kejadian manusia. Dari himpunan ayat-ayat
tersebut akan dicoba dipahami misi yang terkandung di dalamnya serta akan
ditampilkan pula pandangan para ahli tafsir terhadap ayat-ayat tersebut
guna mendapatkan wawasan tentang proses kejadian manusia menurut
Al-Qur’an.
Ayat-ayat
yang berbicara tentang proses kejadian manusia dapat ditemukan dalam
Q.S.
Al-Mukminun ayat 12-14
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا
ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍ۬ مِّن طِينٍ۬ (١٢)
ثُمَّ جَعَلۡنَـٰهُ نُطۡفَةً۬ فِى قَرَارٍ۬ مَّكِينٍ۬ (١٣)
ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً۬ فَخَلَقۡنَا
ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً۬ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَـٰمً۬ا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَـٰمَ
لَحۡمً۬ا ثُمَّ أَنشَأۡنَـٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ
ٱلۡخَـٰلِقِينَ (١٤)
Artinya:
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah.(12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim).(13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.(14)”
Q.S.
Al-Hajj ayat 5
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن
كُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن تُرَابٍ۬ ثُمَّ
مِن نُّطۡفَةٍ۬ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ۬ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٍ۬ مُّخَلَّقَةٍ۬ وَغَيۡرِ
مُخَلَّقَةٍ۬ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ
إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ مُّسَمًّ۬ى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلاً۬ ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ
أَشُدَّڪُمۡۖ وَمِنڪُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنڪُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ
ٱلۡعُمُرِ لِڪَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ۬ شَيۡـًٔ۬اۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ
هَامِدَةً۬ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ
وَأَنۢبَتَتۡ مِن ڪُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٍ۬ (٥)
Artinya:
“Hai
manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka
(ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu
dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”
Q.S.
Al-Insan ayat 2
إِنَّا خَلَقۡنَا
ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٍ۬ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَـٰهُ سَمِيعَۢا
بَصِيرًا (٢)
Artinya:
“Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat.”
Dari
ayat tersebut dapat ditampilkan beberapa hal sebagai titik tolak kajian
sebagai berikut;
a. Susunan dalam ayat-ayat
yang menyangkut kejadian manusia lebih banyak menggunakan kata “Khalaqa”
dari pada kata “Ja’ala”. Hal ini sudah barang tentu mengandung
makna tersendiri dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia.
b. Ayat-ayat yang telah
dikemukakan diatas ternyata ada yang masih global dan ada pula yang lebih
terinci dalam menerangkan kejadian manusia.[2]
1. Kandungan makna “Khalaqa”
dan “Ja’ala” dalam konteks pembicaraan kejadian manusia
Kata khalaqa dalam
Al-Qur’an antara lain digunakan dalam pengertian “ibda’ al-syai’ min ghairi
ashl, walaihtida”, yakni penciptaan Sesutu tanpa asal dan tanpa contoh terlebih
dahulu. Seperti ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan alam semesta ini.
Sedangkan kata ja’ala yang biasa diartikan
“menjadikan”, merupakan lafadz yang bersifat umum yang berkaitan dengan semua
aktivitas dan perbuatan-perbuatan dan lebih umum dari pada fa’ala “membuat
atau berbuat”, dan sebagainya. Ada ayat yang menyebutkan, bahwa kata “khalaqa”
memberikan kesan tentang kehebatan Allah dalam penciptaan alam semesta.
Misalnya dalam Q.S. Al-Imron ayat 190-191.
Kesan
yang ditimbulkan oleh kata “khalaqa” tersebut semakin memperjelas terhadap
penggunaan “khalaqa” dalam kaitannya dengan pembicaraan tentang penciptaan
manusia. Manusia dengan akal budinya bila merenungkan proses kejadian dirinya,
maka akan timbullah perasaan kagum akan kehebatan dan kebesaraNya dalam
menciptakan manusia, yang berasal dari sesuatu yang amat sederhana, yaitu turab (tanah),
atau min sulalah min thin (dari sari pati yang berasal dari
tanah). Rasa kekaguman tersebut pada gilirannya akan menimbulkan kesadaran yang
mendalam akan kebesaran Allah dan sekaligus manusia itu sendiri akan menyadari
akan kekerdilan diri dan ketergantungan kepada Allah SWT.
2. Proses penciptaan
(kejadian) manusia
Pada
uraian diatas telah disebutkan bahwa pengertian “khalaqa” antara lain berarti
menciptakan sesuatu dari sesuatu. Pengertian ini tepat sekali diterapakan dalam
proses kejadian manusia, dalam arti bahwa ia diciptakan dari sesuatu yang telah
ada sumbernya. Ayat-ayat al-qur’an yang berbicara tentang reproduksi manusia
menegaskan bahwa manusia tercipta dari sesuatu yang merupakan asal baginya,
yaitu dari tanah atau dari sari pati yang berasal dari tanah.
Tahapan-tahapan
proses terjadinya manusia adalah sebagai berikut:
a. Bila dilihat dari proses
kejadian manusia secara khusus, maka nuthfah merupakan titik
awal. Nuthfah sendiri yaitu air yang hina atau air yang terpancar
ketika berkumpul (bersenggama). Dr. M. Quraish Syihab menyimpulkan proses
kejadian manusia itu ada 5 tahap, yaitu: nuthfah, ‘alaqah, mudlghah,
‘idham, dan lahm.[3]
Para embriolog menamakan
periode pertama dari proses kejadian manusia itu dengan “periode ovum”, dimana
pertemuan antara sel kelamin ayah (sperma) dan sel kelamin ibu (ovum) bersatu
kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu.
b. Tahap ‘alaq/ ’alaqah tersebut
merupakan tahap penting dalam proses kejadian manusia. Sementara embrio
menyatakan bahwa apabila hasil pembuahan tersebut tidak berdempet, maka
keguguran akan terjadi.
c. Tahap mudlaghah adalah
sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran.
d. Pada proses
selanjutnya mudlghah tersebut dijadikan sebagai tulang (‘idham).
Menurut al-Maraghi, bahwa mudlghah mengandung beberapa unsure, diantaranya
terdapat elemen-elemen atau bahan-bahan pembentuk tulang, sehingga bias menjadi
tulang.
e. Selanjutnya yaitu
terbentuknya darah, sedangkan elemen-elemen daging yang ada pada mudlghah
tersebut menjadi daging segar yang kemudian dijadikan sebagai pembungkus
tulang, daging tersebut mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk
manusia.
3. Nilai-Nilai Pendidikan
yang Terkandung di Dalamnya
Dari
beberapa uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka kita dapat
ditemukan nilai-nilai pendidikan yang perlu dikembangkan dalam proses pendidikan
Islam, yaitu:
· Pertama, salah satu cara yang
ditempuh oleh Al-Qur’an dalam menghantarkan manusia untuk menghayati
petunjuk-petunjuk Allah, dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu
sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya dan betapa dia hidup
· Kedua, Pendidikan dalam Islam
antara lain diarahkan kepada peningkatan iman, pengembangan wawasan atau
pemahaman serta penghayatan secara mendalam terhadap tanda-tanda keagungan dan
kebesaranNya.
· Ketiga, Pendidikan Islam antara
lain diarahkan pada pengembangan jasmani dan rohani secara harmonis, serta
pengembangan fitrah manusia secara terpadu.
· Keempat, Pendidikan dalam Islam
antara lain diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan
menemukan kebenaran ayat-ayatNya.
B. Manusia Sebagai Makhluk
Belajar dan Mengajar
Kajian
tentang manusia dalam hubungannya dengan kegiatan pendidikan Islam, memiliki
signifikasi sebagai berikut:
Pertama, bahwa manusia selain
sebagai subjek (pelaku), juga sebagai objek (sasaran) pendidikan Islam.
Pemahaman terhadap manusia menjadi penting agar proses pendidikan tersebut
dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Kedua, bahwa munculnya berbagai
teori dan konsep tentang belajar yang beraneka ragam, adalah sebagai hasil dari
kajian terhadap manusia yang beragam pula. Hasil kajian terhadap manusia inilah
yang selanjutnya mewarnai konsep pendidikan Islam.
Ketiga, bahwa salah satu kegiatan
utama dalam pendidikan Islam adalah pelaksanaan strategi pembelajaran, yang
melibatkan guru dan peserta didik yang kedua-duanya adalah manusia. Penentuan
konsep atau teori tentang strategi pembelajaran tersebut sangat dipengaruhi
oleh konsep atau teori tentang manusia.
Keempat, bahwa inti dari
kegiatan pembelajaran adalah memotivasi, mendorong, menggerakkan, membimbing
dan mengarahkan agar anak didik mau belajar, yakni menggunakan potensi
kognitif, afektif, dan psikomotoriknya dengan kekuatan dan kemauaannya sendiri.
Proses ini akan berjalan dengan baik, apabila proses komunikasi antara guru dan
pendidik dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, pemahaman
yang benar terhadap manusia menjadi suatu hal yang amat penting.
Kelima, bahwa salah satu
definisi pendidikan yang umumnya berlaku dan diterima para ahli pendidikan, adalah
memengaruhi peserta didik agar mau mengubah pola pikir, tindakan, dan
perbuatannya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Agar proses memengaruhi ini
dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka diperlukan adanya pemahaman
yang utuh, komprehensif dan mendalam terhadap manusia. [5]
C. Potensi-potensi Dasar
Manusia, dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Dari
kajian tentang proses kejadian manusia tersebut dapat ditarik pengertian bahwa
manusia itu terdiri atas dua subtansi, yaitu:
1. Subtansi jasad atau materi,
yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta
ciptaan Allah SWT, dan alam tumbuhan dan perkembangannya tunduk pada dan
mengikuti aturan atau ketentuan Allah.
2. Subtansi immateri atau non
jasad, yaitu peniupan roh (ciptaan-Nya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia
merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai
berbagai alat potensial dan fitrah.
Dari
kedua subtansi tersebut, maka yang paling esensial adalah subtansi immateri
atau ruhnya. Manusia memang terdiri atas jasad dan roh, tetapi yang hakekat
dari kedua subtansi itu adalah roh. Jasad hanyalah alat roh di alam nyata.
Suatu ketika alat (jasad) itu terpisah dari roh. Perpisahan itulah yang disebut
dengan peristiwa maut. Yang mati adalah jasad, sedangkan roh akan melanjutkan
eksestensinya di alam barzah.[6]
1. Alat-alat potensial manusia
Abdul
Jalal, dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah al-Islamiyah”, telah
mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang
dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih ilmu pengetahuan.
Alat-alat
yang saling berkaitan dan melengkapi dalam mencapai ilmu adalah sebagai
berikut:
· Alat peraba dan alat
pencium atau pembau
· Alat pendengaran, alat ini
dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu, untuk mencapai ilmu pengetahuan
· Penglihatan
· Akal atau daya berfikir,
alat ini digunakan agar memungkinkan diri manusia untuk terus ingat (dzikir)
dan memikirkan atau merenungkan ciptaanNya.
· Kalbu, alat ini mempunyai
tujuan agar manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang diserap dari
sumber ilahi.[7]
Pendidikan
dalam Islam antara lain berusaha untuk mengembangkan alat-alat potensial dari
manusia tersebut seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan sebagai sarana bagi
pemecahan masalah-masalahhidup dan kehidupan, pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta budaya manusia dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada
Allah SWT.
2. Potensi-potensi dasar atau
fitrah manusia
Fitrah
manusia itu cukup banyak macamnya, ada baiknya di sini dikemukakan yang
terpenting di antaranya, yaitu:
· Fitrah beragama
· Fitrah berakal budi
· Fitrah kebersihan dan
kesucian
· Fitrah bermoral atau
berakhlak
· Fitrah kebenaran
· Fitrah keadilan
· Fitrah persamaan atau
persatuan
· Fitrah sosial
· Fitrah seksual
· Fitrah ekonomi
· Fitrah politik
· Fitrah seni
3. Implikasi terhadap
Pendidikan
Alat-alat
potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus di
tumbuh kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan
sepanjang hayatnya.
Dalam
ilmu pendidikan, faktor-faktor yangmenentukan keberhasilan pelaksanaan
pendidikan itu ada 5 macam, yang saling berkaitan dan berpengaruh antara satu
faktor dengan faktor yang lainnya, yaitu: faktor tujuan, pendidik, peserta
didik, alat pendidikan, dan lingkungan.karena itulah maka minat, bakat dan
kemampuan, skill dan sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya
dan hasil yang di capai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermcam-macam.[8]
D. Tugas Hidup Manusia dan
Fungsi Pendidikan
Manusia
dalam perjalanan hidup dan kehidupannya, pada dasarnya mengemban amanah atau
tugas-tugas kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan oleh Allah kepada
manusia agar dipenuhi, dijaga, dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Al-Maraghi
mengemukakan bahwa amanah tersebut ada bermacam-macam bentuknya, yaitu:
· Amanah terhadap Tuhannya
· Amanah hamba terhadap
sesama manusia
· Amanah manusia terhadap
dirinya sendiri
Setelah
Rasulullah wafat, maka tugas memperingatkan manusia (Pendidikan Islam) itu
diteruskan oleh para sahabat, dan para pengikut Nabi Saw (dulu sampai sekarang)
yang setia terhadap ajaran-ajaran Allah dan RasulNya di dalamnya adalah para
pendidik manusia.
1. Manusia sebagai Makhluk
yang Mulia
Manusia
diciptakan oleh Allah sebagai penerima dan pelaksana ajaran. Oleh karena itu ia
ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدۡ
كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ
وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ
خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)
Artinya:
“Dan sesungguhnya telah
Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami
beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Sesuai
dengan kedudukannya yang mulia itu, Allah menciptakan manusia dalam bentuk
fisik yang bagus dan seimbang. Maka untuk melengkapinya, Allah menberikan akal
dan perasaan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, yang seluruhnya dikaitkan
kepada pengabdian pada pencipta, Allah SWT.
a. Akal dan perasaan
Setiap
orang menyadari bahwa mereka mempunyai akla dan perasaan. Akal dgunakan untuk
berpikir. Prasaan pusatnya di hati, yang digunakan untuk merasa. Keduanya
saling berkaitan. Orang yang merasa dan berpikir, hasil rumusan pikirannya
dapat dirasakan dan diyakini kebenarannya. Penggunaan akal dan perasaan dapat
menentukan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Kemampuan berpikir
dan merasa merupakan nikmat anugerah Tuhan yang paling besar. Ini pulalah yang
membuat manusia itu istimewa dan dikatakan mulia.
b. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan
adalah suatu yang diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi,
perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan mrupakan hasil pengolahan akal
(berpikir) dan perasaan tentang sesuatu yang diketahui itu.
c. Kebudayaan
Akibat
dari manusia menggunakan akal pikirannya, perasaannya, dan ilmu pengetahuan,
maka tumbuhlah kebudayaan, baik berbentuk sikap, tingkah laku, cara hidup
ataupun berupa benda, irama, bentuk dan sebagainya.
Kebudayaan
harus diikat dengan norma etika dan agama. Agama Islam dipandang tidak saja
sebagai pengikat, melainkan juga sebagai sumber suatu kebudayaan.[9]
2. Manusia sebagai Khalifah di
Bumi
Pandangan
yang menganggap bawa manusia sebagai khalifa di bumi ini, bersumber ada firman
Allah pada surat Al-Baqarah ayat 30 berikut:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ
لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬ۖ قَالُوٓاْ
أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ
بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٣٠)
Artinya:
“Dan Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".”
Dan
pada Q.S. Fathir ayat 39.
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمۡ
خَلَـٰٓٮِٕفَ فِى ٱلۡأَرۡضِۚ فَمَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۖ ۥ وَلَا
يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّہِمۡ إِلَّا مَقۡتً۬اۖ وَلَا
يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ إِلَّا خَسَارً۬ا (٣٩)
Artinya:
“Dia-lah
yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir,
maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang
yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya
dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah
kerugian mereka belaka.”
Setelah
bumi diciptakan, Allah memandang perlu bumi itu didiami, diurus, diolah. Untuk
itu Ia menciptakan manusia yang diserahi tugas dan jabatan khalifah. Kemampuan
bertugas ini adalah suat anugerah Allah dan sekaligus merupakan amanat yang
dibimbing dengan suatu ajaran, yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab
khalifah itu.[10]
3. Manusia sebagai Makhluk
Paedogogik
Makhluk
paedogogik ialah makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik
dan dapat mendidik yaitu manusia. Manusia berpotensi dapat mendidik dan dididik
sehinnga mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan.
Ia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi
dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan
kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Sesuai dengan firman Allah Q.S. Ar-Rum
30 berikut:[11]
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ
حَنِيفً۬اۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡہَاۚ لَا تَبۡدِيلَ
لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ
لَا يَعۡلَمُونَ (٣٠)
Artinya:
“Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Tugas
manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini antara lain menyangkut tugas
mewujudkan kemakmuran di muka bumi, serta mewujudkan keselamatan dan
kebahagiaan hidup di muka bumi, dengan cara beriman dan beramal saleh,
bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam menegakkan
kesabaran.
Dari
keterangan tersebut dapat ditegaskan bahwa pendidikan Islam, antara lain untuk
membingbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah
yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi, baik sebagai ‘abdullah (hamba
Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan Kehendak-Nya serta
mengabdi hanya kepada-Nya) maupun sebagai khalifat Allah di muka bumi, yang
menyangkut pelaksanaan tugas kekhalifaan terhadap diri sendiri, dalam keluarga,
dalam masyarakat dan tugas kekhalifaan terhadap alam.[12]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar