Rabu, 18 Desember 2013

pembahasan manusia seutuhnya


A.      Proses Kejadian Manusia dan Nilai-nilai Pendidikan yang Terkandung di Dalamnya
Menurut H. M. Quraish Shihab, ada tiga kata (istilah) yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia.
1.      Menggunakan kata (istilah) yang terdiri dari huruf alifnun, dan sin, semacam insan, ins, nas,dan unas.
2.      Menggunakan kata basyar.
3.      Menggunakan kata bani adam dan zuiriyat adam.[1]
Untuk mengungkap proses kejadian manusia dalam Al-Qur’an, maka akan dihimpun beberapa ayat yang menerangkan tentang proses kejadian manusia. Dari himpunan ayat-ayat tersebut akan dicoba dipahami misi yang terkandung di dalamnya serta akan ditampilkan pula pandangan para ahli tafsir terhadap ayat-ayat tersebut guna mendapatkan wawasan tentang proses kejadian manusia menurut Al-Qur’an.
Ayat-ayat yang berbicara tentang proses kejadian manusia dapat ditemukan dalam
Q.S. Al-Mukminun ayat 12-14
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن سُلَـٰلَةٍ۬ مِّن طِينٍ۬ (١٢)
 ثُمَّ جَعَلۡنَـٰهُ نُطۡفَةً۬ فِى قَرَارٍ۬ مَّكِينٍ۬ (١٣)
 ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةً۬ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةً۬ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَـٰمً۬ا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَـٰمَ لَحۡمً۬ا ثُمَّ أَنشَأۡنَـٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَ‌ۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَـٰلِقِينَ (١٤)
Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.(12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).(13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.(14)”

Q.S. Al-Hajj ayat 5
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن تُرَابٍ۬ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٍ۬ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ۬ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٍ۬ مُّخَلَّقَةٍ۬ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ۬ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡ‌ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ مُّسَمًّ۬ى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلاً۬ ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّڪُمۡ‌ۖ وَمِنڪُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنڪُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِڪَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ۬ شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةً۬ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن ڪُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٍ۬ (٥)
Artinya:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Q.S. Al-Insan ayat 2
إِنَّا خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن نُّطۡفَةٍ أَمۡشَاجٍ۬ نَّبۡتَلِيهِ فَجَعَلۡنَـٰهُ سَمِيعَۢا بَصِيرًا (٢)
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

 Dari ayat tersebut dapat ditampilkan beberapa hal sebagai titik tolak kajian sebagai berikut;
a.    Susunan dalam ayat-ayat yang menyangkut kejadian manusia lebih banyak menggunakan kata “Khalaqa” dari pada kata “Ja’ala”. Hal ini sudah barang tentu mengandung makna tersendiri dalam konteks pembicaraan penciptaan manusia.
b.    Ayat-ayat yang telah dikemukakan diatas ternyata ada yang masih global dan ada pula yang lebih terinci dalam menerangkan kejadian manusia.[2]
1.    Kandungan makna “Khalaqa” dan “Ja’ala” dalam konteks pembicaraan kejadian manusia
Kata khalaqa dalam Al-Qur’an antara lain digunakan dalam pengertian “ibda’ al-syai’ min ghairi ashl, walaihtida”, yakni penciptaan Sesutu tanpa asal dan tanpa contoh terlebih dahulu. Seperti ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan alam semesta ini. Sedangkan kata ja’ala yang biasa diartikan “menjadikan”, merupakan lafadz yang bersifat umum yang berkaitan dengan semua aktivitas dan perbuatan-perbuatan dan lebih umum dari pada fa’ala “membuat atau berbuat”, dan sebagainya. Ada ayat yang menyebutkan, bahwa kata “khalaqa” memberikan kesan tentang kehebatan Allah dalam penciptaan alam semesta. Misalnya dalam Q.S. Al-Imron ayat 190-191.
Kesan yang ditimbulkan oleh kata “khalaqa” tersebut semakin memperjelas terhadap penggunaan “khalaqa” dalam kaitannya dengan pembicaraan tentang penciptaan manusia. Manusia dengan akal budinya bila merenungkan proses kejadian dirinya, maka akan timbullah perasaan kagum akan kehebatan dan kebesaraNya dalam menciptakan manusia, yang berasal dari sesuatu yang amat sederhana, yaitu turab (tanah), atau min sulalah min thin (dari sari pati yang berasal dari tanah). Rasa kekaguman tersebut pada gilirannya akan menimbulkan kesadaran yang mendalam akan kebesaran Allah dan sekaligus manusia itu sendiri akan menyadari akan kekerdilan diri dan ketergantungan kepada Allah SWT.
2.    Proses penciptaan (kejadian) manusia
Pada uraian diatas telah disebutkan bahwa pengertian “khalaqa” antara lain berarti menciptakan sesuatu dari sesuatu. Pengertian ini tepat sekali diterapakan dalam proses kejadian manusia, dalam arti bahwa ia diciptakan dari sesuatu yang telah ada sumbernya. Ayat-ayat al-qur’an yang berbicara tentang reproduksi manusia menegaskan bahwa manusia tercipta dari sesuatu yang merupakan asal baginya, yaitu dari tanah atau dari sari pati yang berasal dari tanah.
Tahapan-tahapan proses terjadinya manusia adalah sebagai berikut:
a.       Bila dilihat dari proses kejadian manusia secara khusus, maka nuthfah merupakan titik awal. Nuthfah sendiri yaitu air yang hina atau air yang  terpancar ketika berkumpul (bersenggama). Dr. M. Quraish Syihab menyimpulkan proses kejadian manusia itu ada 5 tahap, yaitu: nuthfah, ‘alaqah, mudlghah, ‘idham, dan lahm.[3]
Para embriolog menamakan periode pertama dari proses kejadian manusia itu dengan “periode ovum”, dimana pertemuan antara sel kelamin ayah (sperma) dan sel kelamin ibu (ovum) bersatu kedua intinya dan membentuk suatu zat baru dalam rahim ibu.
b.      Tahap ‘alaq/ ’alaqah tersebut merupakan tahap penting dalam proses kejadian manusia. Sementara embrio menyatakan bahwa apabila hasil pembuahan tersebut tidak berdempet, maka keguguran akan terjadi.
c.       Tahap mudlaghah adalah sepotong daging yang tidak berbentuk dan tidak berukuran.
d.      Pada proses selanjutnya mudlghah tersebut dijadikan sebagai tulang (‘idham). Menurut al-Maraghi, bahwa mudlghah mengandung beberapa unsure, diantaranya terdapat elemen-elemen atau bahan-bahan pembentuk tulang, sehingga bias menjadi tulang.
e.       Selanjutnya yaitu terbentuknya darah, sedangkan elemen-elemen daging yang ada pada mudlghah tersebut menjadi daging segar yang kemudian dijadikan sebagai pembungkus tulang, daging tersebut mengikuti bentuk rangka yang menggambarkan bentuk manusia.
f.       Setelah itu Allah menjadikannya makhluk yang berbentuk fisik, jasad, dan materi.[4]
3.    Nilai-Nilai Pendidikan yang Terkandung di Dalamnya
Dari beberapa uraian tentang proses kejadian manusia tersebut, maka kita dapat ditemukan nilai-nilai pendidikan yang perlu dikembangkan dalam proses pendidikan Islam, yaitu:
·      Pertama, salah satu cara yang ditempuh oleh Al-Qur’an dalam menghantarkan manusia untuk menghayati petunjuk-petunjuk Allah, dengan cara memperkenalkan jati diri manusia itu sendiri, bagaimana asal kejadiannya, dari mana datangnya dan betapa dia hidup
·      Kedua, Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan kepada peningkatan iman, pengembangan wawasan atau pemahaman serta penghayatan secara mendalam terhadap tanda-tanda keagungan dan kebesaranNya.
·      Ketiga, Pendidikan Islam antara lain diarahkan pada pengembangan jasmani dan rohani secara harmonis, serta pengembangan fitrah manusia secara terpadu.
·      Keempat, Pendidikan dalam Islam antara lain diarahkan kepada pengembangan semangat ilmiah untuk mencari dan menemukan kebenaran ayat-ayatNya.
B.       Manusia Sebagai Makhluk Belajar dan Mengajar
Kajian tentang manusia dalam hubungannya dengan kegiatan pendidikan Islam, memiliki signifikasi sebagai berikut:
Pertama, bahwa manusia selain sebagai subjek (pelaku), juga sebagai objek (sasaran) pendidikan Islam. Pemahaman terhadap manusia menjadi penting agar proses pendidikan tersebut dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Kedua, bahwa munculnya berbagai teori dan konsep tentang belajar yang beraneka ragam, adalah sebagai hasil dari kajian terhadap manusia yang beragam pula. Hasil kajian terhadap manusia inilah yang selanjutnya mewarnai konsep pendidikan Islam.
Ketiga, bahwa salah satu kegiatan utama dalam pendidikan Islam adalah pelaksanaan strategi pembelajaran, yang melibatkan guru dan peserta didik yang kedua-duanya adalah manusia. Penentuan konsep atau teori tentang strategi pembelajaran tersebut sangat dipengaruhi oleh konsep atau teori tentang manusia.
Keempat, bahwa inti dari kegiatan pembelajaran adalah memotivasi, mendorong, menggerakkan, membimbing dan mengarahkan agar anak didik mau belajar, yakni menggunakan potensi kognitif, afektif, dan psikomotoriknya dengan kekuatan dan kemauaannya sendiri. Proses ini akan berjalan dengan baik, apabila proses komunikasi antara guru dan pendidik dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, pemahaman yang benar terhadap manusia menjadi suatu hal yang amat penting.
Kelima, bahwa salah satu definisi pendidikan yang umumnya berlaku dan diterima para ahli pendidikan, adalah memengaruhi peserta didik agar mau mengubah pola pikir, tindakan, dan perbuatannya sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Agar proses memengaruhi ini dapat berjalan secara efektif dan efisien, maka diperlukan adanya pemahaman yang utuh, komprehensif dan mendalam terhadap manusia. [5]
C.      Potensi-potensi Dasar Manusia, dan Implikasinya Terhadap Pendidikan
Dari kajian tentang proses kejadian manusia tersebut dapat ditarik pengertian bahwa manusia itu terdiri atas dua subtansi, yaitu:
1.    Subtansi jasad atau materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah SWT, dan alam tumbuhan dan perkembangannya tunduk pada dan mengikuti aturan atau ketentuan Allah.
2.    Subtansi immateri atau non jasad, yaitu peniupan roh (ciptaan-Nya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakekat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah.
Dari kedua subtansi tersebut, maka yang paling esensial adalah subtansi immateri atau ruhnya. Manusia memang terdiri atas jasad dan roh, tetapi yang hakekat dari kedua subtansi itu adalah roh. Jasad hanyalah alat roh di alam nyata. Suatu ketika alat (jasad) itu terpisah dari roh. Perpisahan itulah yang disebut dengan peristiwa maut. Yang mati adalah jasad, sedangkan roh akan melanjutkan eksestensinya di alam barzah.[6]
1.    Alat-alat potensial manusia
Abdul Jalal, dalam bukunya “Min al-Ushul al-Tarbawiyah al-Islamiyah”, telah mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia untuk meraih ilmu pengetahuan.
Alat-alat yang saling berkaitan dan melengkapi dalam mencapai ilmu adalah sebagai berikut:
·      Alat peraba dan alat pencium atau pembau
·      Alat pendengaran, alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qalbu, untuk mencapai ilmu pengetahuan
·      Penglihatan
·      Akal atau daya berfikir, alat ini digunakan agar memungkinkan diri manusia untuk terus ingat (dzikir) dan memikirkan atau merenungkan ciptaanNya.
·      Kalbu, alat ini mempunyai tujuan agar manusia dapat meraih berbagai ilmu serta ma’rifah yang diserap dari sumber ilahi.[7]
Pendidikan dalam Islam antara lain berusaha untuk mengembangkan alat-alat potensial dari manusia tersebut seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan sebagai sarana bagi pemecahan masalah-masalahhidup dan kehidupan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya manusia dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada Allah SWT.
2.    Potensi-potensi dasar atau fitrah manusia
Fitrah manusia itu cukup banyak macamnya, ada baiknya di sini dikemukakan yang terpenting di antaranya, yaitu:
·      Fitrah beragama
·      Fitrah berakal budi
·      Fitrah kebersihan dan kesucian
·      Fitrah bermoral atau berakhlak
·      Fitrah kebenaran
·      Fitrah keadilan
·      Fitrah persamaan atau persatuan
·      Fitrah sosial
·      Fitrah seksual
·      Fitrah ekonomi
·      Fitrah politik
·      Fitrah seni
3.    Implikasi terhadap Pendidikan
Alat-alat potensial dan berbagai potensi dasar atau fitrah manusia tersebut harus di tumbuh kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya.
Dalam ilmu pendidikan, faktor-faktor yangmenentukan keberhasilan pelaksanaan  pendidikan itu ada 5 macam, yang saling berkaitan dan berpengaruh antara satu faktor dengan faktor yang lainnya, yaitu: faktor tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan.karena itulah maka minat, bakat dan kemampuan, skill dan sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang di capai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermcam-macam.[8]
D.      Tugas Hidup Manusia dan Fungsi Pendidikan
Manusia dalam perjalanan hidup dan kehidupannya, pada dasarnya mengemban amanah atau tugas-tugas kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan oleh Allah kepada manusia agar dipenuhi, dijaga, dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Al-Maraghi mengemukakan bahwa amanah tersebut ada bermacam-macam bentuknya, yaitu:
·      Amanah terhadap Tuhannya
·      Amanah hamba terhadap sesama manusia
·      Amanah manusia terhadap dirinya sendiri
Setelah Rasulullah wafat, maka tugas memperingatkan manusia (Pendidikan Islam) itu diteruskan oleh para sahabat, dan para pengikut Nabi Saw (dulu sampai sekarang) yang setia terhadap ajaran-ajaran Allah dan RasulNya di dalamnya adalah para pendidik manusia.

1.      Manusia sebagai Makhluk yang Mulia
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai penerima dan pelaksana ajaran. Oleh karena itu ia ditempatkan pada kedudukan yang mulia. Ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Sesuai dengan kedudukannya yang mulia itu, Allah menciptakan manusia dalam bentuk fisik yang bagus dan seimbang. Maka untuk melengkapinya, Allah menberikan akal dan perasaan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, yang seluruhnya dikaitkan kepada pengabdian pada pencipta, Allah SWT.
a.       Akal dan perasaan
Setiap orang menyadari bahwa mereka mempunyai akla dan perasaan. Akal dgunakan untuk berpikir. Prasaan pusatnya di hati, yang digunakan untuk merasa. Keduanya saling berkaitan. Orang yang merasa dan berpikir, hasil rumusan pikirannya dapat dirasakan dan diyakini kebenarannya. Penggunaan akal dan perasaan dapat menentukan kedudukan seseorang dalam lingkungan sosialnya. Kemampuan berpikir dan merasa merupakan nikmat anugerah Tuhan yang paling besar. Ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa dan dikatakan mulia.
b.      Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh manusia melalui pengalaman, informasi, perasaan atau melalui intuisi. Ilmu pengetahuan mrupakan hasil pengolahan akal (berpikir) dan perasaan tentang sesuatu yang diketahui itu.
c.       Kebudayaan
Akibat dari manusia menggunakan akal pikirannya, perasaannya, dan ilmu pengetahuan, maka tumbuhlah kebudayaan, baik berbentuk sikap, tingkah laku, cara hidup ataupun berupa benda, irama, bentuk dan sebagainya.
Kebudayaan harus diikat dengan norma etika dan agama. Agama Islam dipandang tidak saja sebagai pengikat, melainkan juga sebagai sumber suatu kebudayaan.[9]
2.      Manusia sebagai Khalifah di Bumi
Pandangan yang menganggap bawa manusia sebagai khalifa di bumi ini, bersumber ada firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 30 berikut:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةً۬‌ۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ‌ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ (٣٠)
Artinya:
Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".”

Dan pada Q.S. Fathir ayat 39.
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمۡ خَلَـٰٓٮِٕفَ فِى ٱلۡأَرۡضِۚ فَمَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۖ ۥ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّہِمۡ إِلَّا مَقۡتً۬اۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ إِلَّا خَسَارً۬ا (٣٩)
Artinya:
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.”

Setelah bumi diciptakan, Allah memandang perlu bumi itu didiami, diurus, diolah. Untuk itu Ia menciptakan manusia yang diserahi tugas dan jabatan khalifah. Kemampuan bertugas ini adalah suat anugerah Allah dan sekaligus merupakan amanat yang dibimbing dengan suatu ajaran, yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab khalifah itu.[10]
3.    Manusia sebagai Makhluk Paedogogik
Makhluk paedogogik ialah makhluk Allah yang dilahirkan membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik yaitu manusia. Manusia berpotensi dapat mendidik dan dididik sehinnga mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah, berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia. Sesuai dengan firman Allah Q.S. Ar-Rum 30 berikut:[11]

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفً۬ا‌ۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡہَا‌ۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٠)
            Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Tugas manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi ini antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi, serta mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di muka bumi, dengan cara beriman dan beramal saleh, bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan bekerjasama dalam menegakkan kesabaran.
Dari keterangan tersebut dapat ditegaskan bahwa pendidikan Islam, antara lain untuk membingbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanah dari Allah yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi, baik sebagai ‘abdullah (hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan Kehendak-Nya serta mengabdi hanya kepada-Nya) maupun sebagai khalifat Allah di muka bumi, yang menyangkut pelaksanaan tugas kekhalifaan terhadap diri sendiri, dalam keluarga, dalam masyarakat dan tugas kekhalifaan terhadap alam.[12]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar